Build vs Buy
Framework untuk memutuskan kapan membangun sendiri dan kapan menggunakan solusi yang sudah ada
Apa itu Build vs Buy
- Keputusan strategis: apakah kita membangun fitur/sistem sendiri atau menggunakan solusi pihak ketiga
- Salah satu keputusan teknis yang paling berdampak pada biaya dan velocity
- Tidak ada jawaban universal — bergantung pada konteks bisnis dan teknis
Opsi yang Tersedia
Build
- Membangun dari nol atau dari open-source library
- Full kontrol atas fitur, data, dan roadmap
- Butuh waktu dan resource internal untuk bangun dan maintain
Buy (SaaS/Vendor)
- Berlangganan layanan dari vendor (contoh: Auth0 untuk auth, Stripe untuk payment)
- Cepat diintegrasikan, vendor yang maintain
- Bergantung pada vendor dan biaya berulang
Open Source + Self-host
- Pakai software open source yang di-deploy sendiri
- Lebih murah dari SaaS, tapi butuh tim yang manage infrastruktur
- Kontrol lebih besar dari SaaS, effort lebih besar dari SaaS
Framework Keputusan
1. Apakah ini core competency bisnis?
- Jika ya → pertimbangkan build. Ini yang membedakan produk kamu dari kompetitor.
- Jika tidak → pertimbangkan buy. Fokuskan energy ke hal yang benar-benar membedakan.
Contoh: perusahaan e-commerce tidak perlu build sistem autentikasi sendiri, tapi mungkin perlu build engine rekomendasi produk yang unik.
2. Berapa total cost of ownership?
Build:
- Development time awal
- Biaya maintenance jangka panjang
- Opportunity cost: apa yang tidak bisa dikerjakan karena membangun ini
Buy:
- Biaya lisensi / subscription
- Biaya integrasi
- Risiko vendor lock-in
3. Seberapa unik kebutuhan kita?
- Jika kebutuhan standar → buy hampir selalu lebih efisien
- Jika kebutuhan sangat spesifik yang vendor tidak bisa penuhi → perlu build
4. Seberapa besar risiko ketergantungan vendor?
- Data sensitif → hati-hati dengan vendor pihak ketiga
- Fitur kritikal → pertimbangkan apakah bisa berjalan tanpa vendor tersebut
- Kontrak dan SLA → pastikan sesuai kebutuhan
Contoh Kasus
| Komponen | Rekomendasi Umum | Alasan |
|---|---|---|
| Autentikasi & SSO | Buy (Auth0, Clerk) | Kompleks, security-critical, bukan differentiator |
| Payment processing | Buy (Stripe, Midtrans) | Regulasi ketat, bukan core |
| Email delivery | Buy (SendGrid, Mailgun) | Commodity, deliverability sulit dioptimasi sendiri |
| Search engine | Tergantung | Algolia untuk simplicity, Elasticsearch untuk kontrol |
| CRM internal | Tergantung kebutuhan | Beli jika standar, bangun jika sangat custom |
| Business logic utama | Build | Core differentiator produk |
Kapan Buy Menjadi Masalah
- Vendor lock-in: sulit migrasi karena data atau integrasi terlalu dalam
- Fitur tidak cukup: vendor tidak bisa memenuhi kebutuhan spesifik
- Biaya tidak terkontrol: pricing model vendor tidak predictable saat skala besar
- Data compliance: data tidak boleh keluar dari infrastruktur sendiri
Praktik Terbaik
- Evaluasi build vs buy saat perencanaan, bukan di tengah development
- Dokumentasikan keputusan beserta alasannya (lihat ADR)
- Pertimbangkan "buy first, build later" — mulai dengan vendor untuk validasi, bangun sendiri saat skala besar
- Jangan over-engineer — sering kali buy adalah pilihan terbaik untuk startup dan produk awal
- Review keputusan lama secara berkala — konteks bisnis berubah